Lorong
rumah sakit yang menuju pintu UGD diramaikan dengan bunyi roda tempat tidur
pasien yang di dorong masuk oleh sepasukan perawat berseragam biru rumah sakit.
Tepat disebelah kanan si pasien ada sesosok laki-laki dengan setelan jas mewah
memegang tangan si pasien. Namun genggaman tangan hangat suami-istri itu harus
terlepas diambang pintu masuk UGD.
“Maaf pak, selain tenaga medis. Dilarang masuk!” tegas seorang dokter yang bersiap masuk ke dalam ruang khusus tersebut.
Tetes demi tetes airmata mulai membasahi pipi lelaki paruh baya tersebut. Sebait doa diucapkan dalam hati, doa yang ia percaya akan menguatkan sang istri dalam menjalani operasi histerektomi(1) pasca melahirkan.
Detik demi detik berlalu, menit tergantikan dengan jam. Penantian setia pak Robi diakhiri dengan keluarnya seorang dokter dari ruang UGD.
“Bagaimana keadaan istri saya?”
“Syukurlah, operasi berjalan dengan lancar dan berhasil.”
“Apa saya bisa menemui istri saya sekarang?”
“Mohon maaf belum, Pak. Dua jam lagi istri bapak akan dipindahkan ke ruang ICU dan sekarang anak bapak telah berada diruang khusus bayi, ruang lavender lantai tiga.”
“Tolong lakukan yang terbaik untuk keselamatan istri dan anak saya, dok.” permohonan pak Robi yang disampaikan ke dokter Ahmad dengan nada berat.
“Pasti, pak. Sabar dan berdoalah.” tukas sang dokter mengakhiri pembicaraan.
“Maaf pak, selain tenaga medis. Dilarang masuk!” tegas seorang dokter yang bersiap masuk ke dalam ruang khusus tersebut.
Tetes demi tetes airmata mulai membasahi pipi lelaki paruh baya tersebut. Sebait doa diucapkan dalam hati, doa yang ia percaya akan menguatkan sang istri dalam menjalani operasi histerektomi(1) pasca melahirkan.
Detik demi detik berlalu, menit tergantikan dengan jam. Penantian setia pak Robi diakhiri dengan keluarnya seorang dokter dari ruang UGD.
“Bagaimana keadaan istri saya?”
“Syukurlah, operasi berjalan dengan lancar dan berhasil.”
“Apa saya bisa menemui istri saya sekarang?”
“Mohon maaf belum, Pak. Dua jam lagi istri bapak akan dipindahkan ke ruang ICU dan sekarang anak bapak telah berada diruang khusus bayi, ruang lavender lantai tiga.”
“Tolong lakukan yang terbaik untuk keselamatan istri dan anak saya, dok.” permohonan pak Robi yang disampaikan ke dokter Ahmad dengan nada berat.
“Pasti, pak. Sabar dan berdoalah.” tukas sang dokter mengakhiri pembicaraan.
***
Di luar
ruang lavender, Pak Robi mengamati sebuah inkubator
yang papannya bertuliskan nama dirinya, tanggal kelahiran, jam kelahiran dan
jenis kelamin sang bayi.
“Perempuan. Putri tunggalku.” bisik Pak Robi yang menyebabkan embun pada kaca jendela.
Dengan mata masih tertutup, bayi itu memberikan visualisasi suci bagi orang-orang yang menatapnya. Cukup lama Pak Robi tertegun di luar ruangan. Akhirnya, ia sadar bahwa lima menit lagi ia harus ke ruang dokter Ahmad untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
Tok…tok…tok. “Permisi, dok.”
“Silahkan duduk, Pak Robi.”
“Sebelumnya saya sudah memberitahu bahwa kadar hormon oxytosin yang dihasilkan istri bapak terlalu rendah ditambah lagi dengan proses kedatangan yang terbilang terlambat sehingga proses kelahiran secara normal harus berjalan melebihi batas waktu yang telah ditentukan. Kejadian ini menyebabkan bayi yang dilahirkan masuk dalam keadaan kritis. Untungnya dengan penanganan yang cepat dari rekan-rekan, bayi bapak berhasil melewati masa kritis dan sekarang harus masuk dalam inkubator untuk mendapatkan kondisi khusus karena putri bapak mengalami beberapa kelainan dan kondisinya masih cukup lemah.”
“Bagaimana dengan istri saya?”
“Kondisi Bu Arin sekarang sudah mulai stabil. Saat melahirkan, kami sempat memberikan suntikan hormon yang dapat membantu proses kelahirannya. Namun, sayangnya, suntikan itu tidak cukup membantu dalam menghentikan pendarahan yang terjadi pasca-kelahiran. Jika pendarahan ini dibiarkan terus menerus akan mengancam nyawa pasien yang shock akibat kehilangan banyak darah. Maka dengan sangat terpaksa rahim Bu Arin harus diangkat total, ini langkah terbaik yang dapat kami lakukan.”
Keadaan hening sejenak. Sedih, marah dan bahagia bercampur aduk dalam hati dan pikiran. Terdengar suara detik jarum jam yang seakan menyanyikan lagu sedih menyatakan waktu yang tidak dapat diputar kembali.
“Perempuan. Putri tunggalku.” bisik Pak Robi yang menyebabkan embun pada kaca jendela.
Dengan mata masih tertutup, bayi itu memberikan visualisasi suci bagi orang-orang yang menatapnya. Cukup lama Pak Robi tertegun di luar ruangan. Akhirnya, ia sadar bahwa lima menit lagi ia harus ke ruang dokter Ahmad untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
Tok…tok…tok. “Permisi, dok.”
“Silahkan duduk, Pak Robi.”
“Sebelumnya saya sudah memberitahu bahwa kadar hormon oxytosin yang dihasilkan istri bapak terlalu rendah ditambah lagi dengan proses kedatangan yang terbilang terlambat sehingga proses kelahiran secara normal harus berjalan melebihi batas waktu yang telah ditentukan. Kejadian ini menyebabkan bayi yang dilahirkan masuk dalam keadaan kritis. Untungnya dengan penanganan yang cepat dari rekan-rekan, bayi bapak berhasil melewati masa kritis dan sekarang harus masuk dalam inkubator untuk mendapatkan kondisi khusus karena putri bapak mengalami beberapa kelainan dan kondisinya masih cukup lemah.”
“Bagaimana dengan istri saya?”
“Kondisi Bu Arin sekarang sudah mulai stabil. Saat melahirkan, kami sempat memberikan suntikan hormon yang dapat membantu proses kelahirannya. Namun, sayangnya, suntikan itu tidak cukup membantu dalam menghentikan pendarahan yang terjadi pasca-kelahiran. Jika pendarahan ini dibiarkan terus menerus akan mengancam nyawa pasien yang shock akibat kehilangan banyak darah. Maka dengan sangat terpaksa rahim Bu Arin harus diangkat total, ini langkah terbaik yang dapat kami lakukan.”
Keadaan hening sejenak. Sedih, marah dan bahagia bercampur aduk dalam hati dan pikiran. Terdengar suara detik jarum jam yang seakan menyanyikan lagu sedih menyatakan waktu yang tidak dapat diputar kembali.
***
Malam Sabtu, 15 Mei 2015 pukul 02.15 dini hari.
Rintik air hujan membasahi rumput hijau di halaman rumah pasangan suami-istri keluarga Robi.
“Bi, bibi Suni. Tolong, bi Suni!” suara Bu Arin memanggil dari luar pintu kamar pembantu setianya.
“Ada apa nyonya pagi-pagi begini?” jawab bi Suni yang masih menahan kantuk.
“Bi, perutku sakit sekali, sepertinya mau melahirkan. Tolong bantu saya hubungi tuan. Sudah dua kali dihubungi tapi tidak diangkat.”
Rrr…Rrr vibrasi hp bergetar untuk kesekian kalinya diabaikan Pak Robi. Namun kali ini ia berniat mengangkatnya. “Halo? Ada apa? Maaf, saya masih…”
“Tuan, pulanglah. Nyonya mau melahirkan. Tolong, tuan. Tolong!”
“Iya, bi. Cepat telpon ambulance. Saya akan menyusul.”
Jalan raya pagi itu tampak sepi. Bulanpun masih menyinari bumi. Pak Robi menambah akselerasi mobilnya menuju rumah sakit bersalin bunda yang tidak jauh dari rumahnya. Ia berlari menuju UGD, tepat diujung gang ia melihat istrinya didorong dengan kereta pasien . Ia berlari dan menggenggam tangan Bu Arin menuju UGD. Sayangnya, ruang tersebut tertutup dari dunia luar, sesekali dilihat baying-bayang sekawanan perawat dan dokter menangani istrinya yang berteriak kesakitan disusul suara tangisan bayi dan akhirnya hening.
Arrghh!
Hhh…hhh. Jeritan Alexia membangunkan dirinya dari mimpi buruk yang menghampiri
tidurnya.
“Mimpi apa ini? Aku melihat tubuhku disayat-sayat.” kata Alexia sambil memandang tubuhnya yang tengah berdiri di depan cermin di samping tempat tidurnya.
“Syukurlah semuanya baik-baik saja. Ternyata sudah pukul 05.00 pagi. Aku harus segera siap-siap pergi ke sekolah.” batin Alexia menuju kamar mandi.
“Sudah siap di sekolah yang baru, Alexia?” tanya Bu Arin.
“Cukup gugup.”
“Oke. Sekarang makanlah yang banyak, jangan lupa bawa buku pelajaranmu, jangan lupa bawa bekalmu, ibu akan segera siapkan sepatumu, jangan lupa bawa obatmu…”
“Stop, ma! Aku sudah tahu.” jawab Alexia dengan nada jengkel.
“Tunggu, mama belum selesai, setelah sarapan jangan lupa minum obatmu.” lanjut Bu Arin yang tak terima atas interupsi dari Alexia.
Alexia menenggak tiga butir obat sekaligus yang tampaknya sudah kebal dengan rasa pahitnya obat.
Pukul 06.30 WIB. Alexia berangkat ke sekolah barunya. Sekolah yang terletak di kota kelahirannya, Jakarta. Sebelumnya, ketika Alexia lahir. Mereka satu keluarga pindah ke Amerika karena melakukan pengobatan Bu Arin dan Alexia. Di umurnya yang ke enam belas ini, Alexia harus menempuh pendidikan di salah satu SMA di Jakarta.
Hal yang terjadi di sekolah ini, tidak jauh berbeda dengan kejadian di sekolahnya dulu. Tetap saja Alexia tidak boleh mengikuti kegiatan olahraga, tidak boleh kelelahan atau jika aturan ini dilanggar, Alexia bisa pingsan karena mengalami hipoxia (2).
Saat mata pelajaran olahraga dia selalu duduk di gazebo sekolah, memandang anak-anak lain berlari dengan riangnya. Alexia terlalu takut untuk melanggar aturan yang telah dipatenkan untuk dirinya. Hal ini karena trauma yang pernah ia alami, ketika berumur sepuluh tahun alexia mengikuti kegiatan olahraga secara diam-diam saat sedang tidak diawasi oleh para guru. Alexia ikut menjadi bagian dari tim lempar tangkap bola.
Canda tawa anak-anak tersebut berubah menjadi kengerian ketika bola yang dilempar tidak bisa lagi ditangkap oleh alexia yang sudah kelelahan. Lemparan tersebut justru mengenai dadanya. Fisik yang lemah itu akhirnya terjatuh, kesakitan luar biasa menghampiri tubuh lemah Alexia dan kegelapan mulai menyelimuti pandangan. Seketika keadaan menjadi gelap.
Bau ruang steril menusuk paru-paru Alexia. Ia melayangkan pandangan mata ke seluruh ruang. Papa, mama dan dokter. Dibatas ambang sadar dan tidak sadar, ia mendengar percakapan kedua orang tuanya dengan dokter.
Alexia menderita leukemia limfoblastik(3) kronis. Gejala dari penyakit menyebabkan jumlah sel darah merah Alexia turun dibawah normal sehingga Alexia sangat mudah mengalami kelelahan. Bahkan leukemia yang dideritanya akan menyebabkan pendarahan acak diseluruh bagian mukosa tubuhnya. Komplikasi lain juga diderita oleh Alexia, ginjalnya mengalami penurunan fungsi, alat filtrate pada ginjalnya sebagian tak mampu berfungsi. Dengan usianya yang masih belia, persentase kegagalan operasi sangat tinggi.
Dalam keadaan mata setengah terbuka, ia melihat dokter menusukkan jarum suntik pada nadi lengan kanannya. Rasa sakit yang sudah tidak asing lagi. Bahkan Alexia ragu untuk menamainya sebagai rasa sakit. Tiga hari sekali di seumur hidup ia harus merasakannya. Pemberian obat melalui oral(4) dan intravena(5) adalah rutinitas untuk menjaga kelangsungan hidupnya.
Alexia tersadar akan lamunannya. Sempat tak percaya kalau dia bisa bertahan hidup sampai usianya yang sekarang hampir menjelang tujuh belas tahun. Obat-obatan dan janji kedua orang tuanya yang membuat ia bertahan. Janji yang akan membawanya dalam keadaan sembuh total dengan obat masa depan, layaknya hidup sebagai manusia normal.
“Mimpi apa ini? Aku melihat tubuhku disayat-sayat.” kata Alexia sambil memandang tubuhnya yang tengah berdiri di depan cermin di samping tempat tidurnya.
“Syukurlah semuanya baik-baik saja. Ternyata sudah pukul 05.00 pagi. Aku harus segera siap-siap pergi ke sekolah.” batin Alexia menuju kamar mandi.
“Sudah siap di sekolah yang baru, Alexia?” tanya Bu Arin.
“Cukup gugup.”
“Oke. Sekarang makanlah yang banyak, jangan lupa bawa buku pelajaranmu, jangan lupa bawa bekalmu, ibu akan segera siapkan sepatumu, jangan lupa bawa obatmu…”
“Stop, ma! Aku sudah tahu.” jawab Alexia dengan nada jengkel.
“Tunggu, mama belum selesai, setelah sarapan jangan lupa minum obatmu.” lanjut Bu Arin yang tak terima atas interupsi dari Alexia.
Alexia menenggak tiga butir obat sekaligus yang tampaknya sudah kebal dengan rasa pahitnya obat.
Pukul 06.30 WIB. Alexia berangkat ke sekolah barunya. Sekolah yang terletak di kota kelahirannya, Jakarta. Sebelumnya, ketika Alexia lahir. Mereka satu keluarga pindah ke Amerika karena melakukan pengobatan Bu Arin dan Alexia. Di umurnya yang ke enam belas ini, Alexia harus menempuh pendidikan di salah satu SMA di Jakarta.
Hal yang terjadi di sekolah ini, tidak jauh berbeda dengan kejadian di sekolahnya dulu. Tetap saja Alexia tidak boleh mengikuti kegiatan olahraga, tidak boleh kelelahan atau jika aturan ini dilanggar, Alexia bisa pingsan karena mengalami hipoxia (2).
Saat mata pelajaran olahraga dia selalu duduk di gazebo sekolah, memandang anak-anak lain berlari dengan riangnya. Alexia terlalu takut untuk melanggar aturan yang telah dipatenkan untuk dirinya. Hal ini karena trauma yang pernah ia alami, ketika berumur sepuluh tahun alexia mengikuti kegiatan olahraga secara diam-diam saat sedang tidak diawasi oleh para guru. Alexia ikut menjadi bagian dari tim lempar tangkap bola.
Canda tawa anak-anak tersebut berubah menjadi kengerian ketika bola yang dilempar tidak bisa lagi ditangkap oleh alexia yang sudah kelelahan. Lemparan tersebut justru mengenai dadanya. Fisik yang lemah itu akhirnya terjatuh, kesakitan luar biasa menghampiri tubuh lemah Alexia dan kegelapan mulai menyelimuti pandangan. Seketika keadaan menjadi gelap.
Bau ruang steril menusuk paru-paru Alexia. Ia melayangkan pandangan mata ke seluruh ruang. Papa, mama dan dokter. Dibatas ambang sadar dan tidak sadar, ia mendengar percakapan kedua orang tuanya dengan dokter.
Alexia menderita leukemia limfoblastik(3) kronis. Gejala dari penyakit menyebabkan jumlah sel darah merah Alexia turun dibawah normal sehingga Alexia sangat mudah mengalami kelelahan. Bahkan leukemia yang dideritanya akan menyebabkan pendarahan acak diseluruh bagian mukosa tubuhnya. Komplikasi lain juga diderita oleh Alexia, ginjalnya mengalami penurunan fungsi, alat filtrate pada ginjalnya sebagian tak mampu berfungsi. Dengan usianya yang masih belia, persentase kegagalan operasi sangat tinggi.
Dalam keadaan mata setengah terbuka, ia melihat dokter menusukkan jarum suntik pada nadi lengan kanannya. Rasa sakit yang sudah tidak asing lagi. Bahkan Alexia ragu untuk menamainya sebagai rasa sakit. Tiga hari sekali di seumur hidup ia harus merasakannya. Pemberian obat melalui oral(4) dan intravena(5) adalah rutinitas untuk menjaga kelangsungan hidupnya.
Alexia tersadar akan lamunannya. Sempat tak percaya kalau dia bisa bertahan hidup sampai usianya yang sekarang hampir menjelang tujuh belas tahun. Obat-obatan dan janji kedua orang tuanya yang membuat ia bertahan. Janji yang akan membawanya dalam keadaan sembuh total dengan obat masa depan, layaknya hidup sebagai manusia normal.
ALEXIA
Janji
untuk seorang anak kecil polos, sekarang sudah tak berlaku di usiaku yang
sekarang. Bahkan aku ragu apakah aku dapat hidup di hari esok. Kue ulang tahun
coklat dengan lilin merah menunjukan angka 17 itupun ku tiup. Tertoreh senyum
kebahagian dari kedua wajah mereka. Tak lupa harapan ku ucapkan dalam hati,
harapan untukku dan harapan untuk kedua orangtua yang kusayangi.
“Alexia. Ini hadiah untukmu. Bukalah!” kata papa yang memberiku sebuah amplop putih.
“Apa ini?” gumamku dengan penasaran. “Tiket ke Amerika? Ini hadiah ulang tahun sekaligus liburan? Sungguh luar biasa. Terima kasih ma, pa!” kataku lalu memeluk mereka.
“Perlu kamu ketahui Alexia. Disana kamu akan menjalani operasi besar. Siapkan dirimu dan jangan sampai kondisimu drop.” raut wajah papa berubah menjadi tegang terlihat dari lengkung bibir agak turun dan alis matanya yang tajam. Aku terdiam.
Mama memelukku dan membisikku. “Kami akan menepati janji kami yang dulu. Kamu akan sembuh, Alexia.”
Aku hanya terdiam membiarkan gejolak rasa senang, tegang dan takut yang melebur di satu jiwa dalam diriku. Terlintas di pikiranku. Apa aku akan sembuh? Apa aku akan selamat dari bahaya pisau yang mengiris tubuhku? Apa aku akan hidup? Apa aku akan mati? Pertanyaan demi pertanyaan terus berteriak dalam otakku. Aku terpejam dalam pelukan hangat mereka.
“Alexia. Ini hadiah untukmu. Bukalah!” kata papa yang memberiku sebuah amplop putih.
“Apa ini?” gumamku dengan penasaran. “Tiket ke Amerika? Ini hadiah ulang tahun sekaligus liburan? Sungguh luar biasa. Terima kasih ma, pa!” kataku lalu memeluk mereka.
“Perlu kamu ketahui Alexia. Disana kamu akan menjalani operasi besar. Siapkan dirimu dan jangan sampai kondisimu drop.” raut wajah papa berubah menjadi tegang terlihat dari lengkung bibir agak turun dan alis matanya yang tajam. Aku terdiam.
Mama memelukku dan membisikku. “Kami akan menepati janji kami yang dulu. Kamu akan sembuh, Alexia.”
Aku hanya terdiam membiarkan gejolak rasa senang, tegang dan takut yang melebur di satu jiwa dalam diriku. Terlintas di pikiranku. Apa aku akan sembuh? Apa aku akan selamat dari bahaya pisau yang mengiris tubuhku? Apa aku akan hidup? Apa aku akan mati? Pertanyaan demi pertanyaan terus berteriak dalam otakku. Aku terpejam dalam pelukan hangat mereka.
***
Siang
itu bandara Internasional Soekarno-Hatta disirami teriknya cahaya matahari.
Tepat pukul 09.35 pagi pesawat yang kami tumpangi telah lepas landas untuk
meninggalkan negri ini. Terbang dengan
ketinggian ribuan kaki udara lepas. Terasa seperti rajawali yang mengelilingi
angkasa memandang ke laut bebas. Lembutnya awan terasa perlahan kulewati.
Menikmati pemandangan mini yang tersaji dari jarak yang tinggi. Namun realita
berkata lain, aku hanya terkurung dalam perut burung besi dengan fasilitas
VVIP. Yang berlari melebihi kecepatan rambatan suara(6).
Aku tidak menghitung berapa lama perjalanan kami. Bahkan aku tidak tertarik sama sekali untuk menghitung. Jika aku menghitung waktu, aku juga menghitung sisa nyawaku. Sisa nyawa. Oh tidak. Belum tentu aku akan mati dengan operasi.
Sekarang perjalanan berganti dengan mobil pribadi keluarga.
‘“Mau kemana kita, Pa?” tanyaku dengan rasa penasaran tingkat dewa.
“Sebelum kita ke villa, kamu harus cek kesehatan dulu dan mengontrol pendonormu.” kata papa.
“Pendonor?”
“Cukup, Pa.”
Perkataan mama menghentikan mulut papa yang hendak berucap.
Ada apa ini? Pendonor? Siapa sukarelawan yang merelakan organnya untukku? Mengapa mama menghentikan pembicaraan ini? Ini aneh. Sungguh aneh.
Orang-tuaku mengantarkan aku ke dalam sebuah ruang di lantai 5 yang bernuansa biru muda. Kulirik jendela, nampak taman rindang dibawah yang dipenuhi dengan pasien-pasien berambut kuning berbalut pakaian biru dan para suster berbaju khas rumah sakit. Sekarang aku ada di sebuah rumah sakit. Tepatnya di kota Washington. Dikamar yang telah di khususkan untukku. Kamar yang steril.
“Selamat datang, Robi.”
“Apa kabar kak?”
“Seperti yang kau lihat. Aku cukup baik.”
“Ternyata Alexia sudah tujuh belas tahun sekarang. Penantian panjang akhirnya tiba. Berbaringlah Alexia, akan kuperiksa keadaanmu dan akan kuberikan sedikit injeksi multivitamin.”
“Iya, Paman.”
Wajah dokter ini sudah tidak asing lagi bagiku. Dia adalah dokter pribadi sekaligus pamanku. Setiap tahun dia rutin mengunjungi rumah kami di Indonesia dan membawakanku oleh-oleh serta suntikan EPO(7).
“Robi, Arin mari ke ruang saya. Ada yang ingin kalian lihat, kan?”
“Alexia, kamu tunggu disini dan tidurlah. Jangan kemana-mana.” kata mama dengan cukup tegas yang tergambar dari raut wajahnya.
Aku hanya diam seribu bahasa memandang mereka menutup pintu ruangan. Rasa penasaran mengalahkan rasa takutku. Dengan sunyi aku melangkah menuju pintu. Perlahan-lahan aku membukanya. Deritnya seketika merangsang adrenalin(8) dan memacu saraf simpatisku(9) untuk menggerakan ototku agar lebih waspada. Harus waspada.
Aku melihat orang tuaku dan paman berbelok di ujung gang rumah sakit. Tanpa menimbulkan suara aku mengikuti mereka melewati lorong yang sepi. Sampai akhirnya mereka masuk menuju ruang para dokter dan menutup pintu. Aku sibuk mencari celah untuk mengintip. Tak ada celah. Bahkan kaca ruangan tertutup oleh gorden biru tebal. Aku hampir menyerah. Tidak. Aku sudah sampai disini. Rasa penasaran mengalahkan rasa takut.
Dengan hati-hati aku membuka pintu. Jantungku semakin berdegub kencang. Pintu terbuka sedikit, terdengar percakapan suara didalam. Sayup-sayup tapi jelas.
“Ini ALX18. Kondisinya sehat dan bugar karena porsi makanan yang dijaga ketat selama masa karantina .”
“Baguslah . Kapan transplantasi organ akan dilakukan?”
“Secepatnya. Akan dijalankan dua hari lagi.”
“Lalu? Nasib anak ini?”
“Malang sekali. Dia akan mati karena tugasnya sudah selesai.”
Hening.
Tugasnya sudah selesai dan mati? Mudah sekali mereka mengucapkan kata tabu itu di hadapan seseorang yang masih bernyawa. Apa yang terjadi?
Aku memaksa diriku untuk masuk. Sekali lagi rasa penasaran mengalahkan rasa takutku. Semua mata tertuju pada diriku di dekat pintu. Empat pasang mata melihat tepat ke arah pupilku. Hanya sepasang mata yang sangat menarik perhatianku. Aku melihat pantulan sinar mataku sendiri. Aku bagai melihat cermin dengan pantulan ragaku. Aku melihat diriku didepan mataku, sangat nyata.
Tanpa sedikitpun aku berkedip aku mulai melangkah menuju anak itu. Hingga kami berjarak satu meter. Matanya sangat lekat memandang kosong ke arahku. Seakan akulah bayangannya.
“ALX-18.” Kataku tiba-tiba kepada semua yang ada di dalam ruangan.
“INIKAH YANG KALIAN SEBUT ALX-18! OBAT MASA DEPANKU???”
Air mata menahan sesaat teriakan yang keluar dari mulutku.
“Kalian menukar nyawanya untuk nyawaku? Permainan macam apa ini?”
“Tenang, Alexia. Kami melakukan ini karena kami sayang padamu.” Kata mama yang mencoba meredam emosiku
“Tidak . Kalian pembunuh!”
“Ini salah paham, dengarkan dulu, Alexia. Dia hanya manusia yang dibesarkan dan tumbuh di laboratorium. Kamu adalah anak kami satu-satunya. Kami sangat menyayangimu, kami ingin kamu tumbuh sehat dan normal, kami ingin hidupmu lebih lama. Karna itulah kloningmu dibuat.”
“Alexia, mendapatkan pendonor yang benar-benar identik sangat susah. Karenanya kami memilih jalan ini. Dengan memanfaatkan kemajuan bioteknologi. Kami meminta pamanmu yang bekerja disini untuk menciptakan seseorang yang selalu siap menjadi obat untukmu. Takdirnya adalah dirimu. Sekarang, sudah saatnya dia menemui takdirnya. Melaksanakan tugasnya untukmu.”
“Kalian gila! Bagaimana bisa kalian mengorbankan seseorang yang punya akal dan perasaan untuk mengikuti keinginan kalian?”
Mereka diam dan membisu. Tidak ada satupun diantara mereka menjawab. Anak itu mulai menitikkan air mata di sudut matanya. Mata yang tercipta dari mataku. Raganya hasil rekayasa sel tubuhku.
“INI GILA. PENGETAHUAN MEMBUTAKAN NURANI KALIAN. MENGHAPUS MORAL KALIAN.”
“TIDAAAAKKKK!!!”
Aku berteriak pilu didalam ruangan. Otot-otot kakiku tak mampu menahan beban yang menumpuk dalam diriku. Aku berlutut di depannya, ALX-18.
Mama memegang lembut tanganku lalu diikuti dengan jarum suntik yang berisi serum bening, mengalir dalam pembuluh darahku. Mengikuti sirkulasi darahku. Pemandangan disekitarku nampak buram. Tapi mataku masih cukup jelas untuk melihat wajahnya. Aku melihat sebuah senyuman kasih darinya yang perlahan semakin pudar. Kesadaranku semakin melemah. Mungkin aku berharap aku mati saja atau semoga ini hanya sebuah mimpi buruk. Gelap menyelimutiku.
THE END
Aku tidak menghitung berapa lama perjalanan kami. Bahkan aku tidak tertarik sama sekali untuk menghitung. Jika aku menghitung waktu, aku juga menghitung sisa nyawaku. Sisa nyawa. Oh tidak. Belum tentu aku akan mati dengan operasi.
Sekarang perjalanan berganti dengan mobil pribadi keluarga.
‘“Mau kemana kita, Pa?” tanyaku dengan rasa penasaran tingkat dewa.
“Sebelum kita ke villa, kamu harus cek kesehatan dulu dan mengontrol pendonormu.” kata papa.
“Pendonor?”
“Cukup, Pa.”
Perkataan mama menghentikan mulut papa yang hendak berucap.
Ada apa ini? Pendonor? Siapa sukarelawan yang merelakan organnya untukku? Mengapa mama menghentikan pembicaraan ini? Ini aneh. Sungguh aneh.
Orang-tuaku mengantarkan aku ke dalam sebuah ruang di lantai 5 yang bernuansa biru muda. Kulirik jendela, nampak taman rindang dibawah yang dipenuhi dengan pasien-pasien berambut kuning berbalut pakaian biru dan para suster berbaju khas rumah sakit. Sekarang aku ada di sebuah rumah sakit. Tepatnya di kota Washington. Dikamar yang telah di khususkan untukku. Kamar yang steril.
“Selamat datang, Robi.”
“Apa kabar kak?”
“Seperti yang kau lihat. Aku cukup baik.”
“Ternyata Alexia sudah tujuh belas tahun sekarang. Penantian panjang akhirnya tiba. Berbaringlah Alexia, akan kuperiksa keadaanmu dan akan kuberikan sedikit injeksi multivitamin.”
“Iya, Paman.”
Wajah dokter ini sudah tidak asing lagi bagiku. Dia adalah dokter pribadi sekaligus pamanku. Setiap tahun dia rutin mengunjungi rumah kami di Indonesia dan membawakanku oleh-oleh serta suntikan EPO(7).
“Robi, Arin mari ke ruang saya. Ada yang ingin kalian lihat, kan?”
“Alexia, kamu tunggu disini dan tidurlah. Jangan kemana-mana.” kata mama dengan cukup tegas yang tergambar dari raut wajahnya.
Aku hanya diam seribu bahasa memandang mereka menutup pintu ruangan. Rasa penasaran mengalahkan rasa takutku. Dengan sunyi aku melangkah menuju pintu. Perlahan-lahan aku membukanya. Deritnya seketika merangsang adrenalin(8) dan memacu saraf simpatisku(9) untuk menggerakan ototku agar lebih waspada. Harus waspada.
Aku melihat orang tuaku dan paman berbelok di ujung gang rumah sakit. Tanpa menimbulkan suara aku mengikuti mereka melewati lorong yang sepi. Sampai akhirnya mereka masuk menuju ruang para dokter dan menutup pintu. Aku sibuk mencari celah untuk mengintip. Tak ada celah. Bahkan kaca ruangan tertutup oleh gorden biru tebal. Aku hampir menyerah. Tidak. Aku sudah sampai disini. Rasa penasaran mengalahkan rasa takut.
Dengan hati-hati aku membuka pintu. Jantungku semakin berdegub kencang. Pintu terbuka sedikit, terdengar percakapan suara didalam. Sayup-sayup tapi jelas.
“Ini ALX18. Kondisinya sehat dan bugar karena porsi makanan yang dijaga ketat selama masa karantina .”
“Baguslah . Kapan transplantasi organ akan dilakukan?”
“Secepatnya. Akan dijalankan dua hari lagi.”
“Lalu? Nasib anak ini?”
“Malang sekali. Dia akan mati karena tugasnya sudah selesai.”
Hening.
Tugasnya sudah selesai dan mati? Mudah sekali mereka mengucapkan kata tabu itu di hadapan seseorang yang masih bernyawa. Apa yang terjadi?
Aku memaksa diriku untuk masuk. Sekali lagi rasa penasaran mengalahkan rasa takutku. Semua mata tertuju pada diriku di dekat pintu. Empat pasang mata melihat tepat ke arah pupilku. Hanya sepasang mata yang sangat menarik perhatianku. Aku melihat pantulan sinar mataku sendiri. Aku bagai melihat cermin dengan pantulan ragaku. Aku melihat diriku didepan mataku, sangat nyata.
Tanpa sedikitpun aku berkedip aku mulai melangkah menuju anak itu. Hingga kami berjarak satu meter. Matanya sangat lekat memandang kosong ke arahku. Seakan akulah bayangannya.
“ALX-18.” Kataku tiba-tiba kepada semua yang ada di dalam ruangan.
“INIKAH YANG KALIAN SEBUT ALX-18! OBAT MASA DEPANKU???”
Air mata menahan sesaat teriakan yang keluar dari mulutku.
“Kalian menukar nyawanya untuk nyawaku? Permainan macam apa ini?”
“Tenang, Alexia. Kami melakukan ini karena kami sayang padamu.” Kata mama yang mencoba meredam emosiku
“Tidak . Kalian pembunuh!”
“Ini salah paham, dengarkan dulu, Alexia. Dia hanya manusia yang dibesarkan dan tumbuh di laboratorium. Kamu adalah anak kami satu-satunya. Kami sangat menyayangimu, kami ingin kamu tumbuh sehat dan normal, kami ingin hidupmu lebih lama. Karna itulah kloningmu dibuat.”
“Alexia, mendapatkan pendonor yang benar-benar identik sangat susah. Karenanya kami memilih jalan ini. Dengan memanfaatkan kemajuan bioteknologi. Kami meminta pamanmu yang bekerja disini untuk menciptakan seseorang yang selalu siap menjadi obat untukmu. Takdirnya adalah dirimu. Sekarang, sudah saatnya dia menemui takdirnya. Melaksanakan tugasnya untukmu.”
“Kalian gila! Bagaimana bisa kalian mengorbankan seseorang yang punya akal dan perasaan untuk mengikuti keinginan kalian?”
Mereka diam dan membisu. Tidak ada satupun diantara mereka menjawab. Anak itu mulai menitikkan air mata di sudut matanya. Mata yang tercipta dari mataku. Raganya hasil rekayasa sel tubuhku.
“INI GILA. PENGETAHUAN MEMBUTAKAN NURANI KALIAN. MENGHAPUS MORAL KALIAN.”
“TIDAAAAKKKK!!!”
Aku berteriak pilu didalam ruangan. Otot-otot kakiku tak mampu menahan beban yang menumpuk dalam diriku. Aku berlutut di depannya, ALX-18.
Mama memegang lembut tanganku lalu diikuti dengan jarum suntik yang berisi serum bening, mengalir dalam pembuluh darahku. Mengikuti sirkulasi darahku. Pemandangan disekitarku nampak buram. Tapi mataku masih cukup jelas untuk melihat wajahnya. Aku melihat sebuah senyuman kasih darinya yang perlahan semakin pudar. Kesadaranku semakin melemah. Mungkin aku berharap aku mati saja atau semoga ini hanya sebuah mimpi buruk. Gelap menyelimutiku.
THE END
Glosarium
1. Histerektomi : Operasi pengangkatan rahim sebagai akibat dari suatu
penyakit atau keputusan terakhir saat pendarahan rahim hebat. Akibatnya, wanita
tersebut tidak dapat mengandung(hamil) lagi.
2. Hipoksia : kekurangan oksigen dalam jaringan.
3. Leukemia limfoblastik : suatu penyakit kanker darah yang diakibatkan
oleh produksi sel darah putih oleh sumsum tulang dan jaringan limfostik yang
melebihi batas normal akibatnya dapat menyingkirkan sel lain yang ada di dalam
tubuh.
4. Oral : melalui mulut
5. Intravena : saluran pembuluh darah (vena/pembuluh darah balik)
6. EPO : eritropoetin, hormon khusus yang diproduksi ginjal untuk
melaksanakan eritrogenesis(pembentukan sel darah merah)
7. Adrenalin : suatu neurotransmitter/hormon yang diproduksi di medulla
adrenal untuk merangsang kerja sel saraf dll
8. Simpatis : suatu bagian dari sistem saraf tepi dan menjadi bagian
dari suatu sistem saraf otonom yang kerjanya dirangsang oleh adrenalin